Secangkir kopi menjadi teman di penghujung malam.  Kutatap langit yang tersamarkan oleh gemerlap cahaya lampu perkotaan. Sejenak kuhirup nafas dalam di sela deru kendaraan yang tak pernah diam.

“Ding dong”

Tiba-tiba terdengar bel apartemen berbunyi. Aku melihat jam di dinding. Hanya orang yang memiliki masalah genting yang akan menemuiku selarut ini, begitu pikirku. Benar saja seorang klien bernama Pak Pratama. Ia datang mewakili Wira Yudha, pengusaha kaya pemilik Bank Arta Yudha.

“Langsung saja, apa tujuan anda menemui saya selarut ini?” tanyaku.

“Telah terjadi perampokan besar di Bank Arta Yudha. Direktur kami Bapak Wira Yudha menginginkan Anda yang menyelidiki kasus ini,” kata Pak Pratama.

Aku berpikir beberapa saat.

“Baiklah. Saya ambil kasus ini. Kirimkan berkas pendukung dan bukti yang sudah ada ke email saya segera,” jawabku.

“Baik. Besok pagi harap datang ke Kantor Polisi untuk membahas ini,” kata Pak Pratama.

Pukul 09.00 WIB di Kantor Polisi. Pertemuan terbatas ini hanya diikuti oleh Kepala Polisi, Ketua Tim Penyidik, Pak Pratama dan aku. Pertemuan selesai, saatnya mulai bekerja.

“Perkenalkan, saya Raffa Pandu Satya ketua Tim Penyidik kasus ini. Anda bisa panggil saya Raffa,” kata seorang pria yang dari tadi berdiri di sampingku.

Pria ini berbadan tegap, tingginya mungkin sekitar 180 cm. usianya sekitar 29 tahun. Tatapan matanya tajam, tapi tersamarkan oleh senyum dan ramah tamahnya.

“Saya Kirana Dewi, detektif swasta yang diminta menyelidiki kasus ini. Anda bisa panggil saya Kirana,” jawabku menanggapi.

Malam ini aku sengaja mendatangi TKP untuk mencari jejak pelaku perampokan. Sekilas tampak bersih dan rapi, seperti tidak pernah terjadi apa-apa di sana. Kemungkinannya pelaku sangat terampil atau orang dalam yang sudah  mengetahui seluk beluk tempat ini. Setelah berjam-jam tak juga kutemukan hal baru aku pun bergegas pergi. Naas kakiku terkantuk tiang, Ponsel yang sedari tadi kugenggam lepas terselip di bawah pintu brankas Bank. Aku julurkan tangan mencoba meraih ponselku. Namun yang kudapat sebuah butiran hitam kayu yang sedikit rompal di pinggirnya. Ada ukiran kecil huruf “d” atau “p” di permukaannya. Aku simpan benda itu dan pulang. Sepanjang perjalanan aku merasa ada sepasang mata yang terus mengintaiku, beruntung aku tinggal di tengah kota yang sangat ramai.

“Triiingg”

Sebuah pesan masuk di ponselku. Ditemukan aliran dana yang cukup besar dari rekening milik Hari Yudha, putra dari Wira Yudha ke salah satu Bank di luar negeri. Tim Cyber kepolisian bisa menggagalkan prosesnya dan segera mengamankan Hari Yudha. Dari rekaman CCTV Bank terlihat ia adalah orang terakhir yang meninggalkan TKP pada hari perampokan terjadi, setelah itu CCTV mati. Di duga ia sengaja melakukan ini untuk mengambil keuntungannya sendiri dan menjatuhkan ayahnya. Sudah menjadi rahasia publik hubungan ayah anak ini penuh perselisihan.

Aku dan AKP Raffa kembali menyusun puzzle yang masih berserakan. Kulihat matanya merah, dengan lingkaran hitam di bawahnya. Tangannya tengah menggenggam sebuah tasbih kayu berwarna hitam. Beberapa kali aku melihat ia membawanya. Tapi baru kali ini aku perhatikan ada satu tempat yang jarak butirannya lebih jauh dari yang lain.

“Mbak Kirana, ada satu tempat yang terlewat belum kita selidiki. Rumah Wira Yudha sendiri,” sahutnya tiba-tiba.

“Benar, kita bisa saja mendapatkan sesuatu di sana. Mengingat Hari Yudha juga tinggal di sana,” jawabku cepat.

Kami memeriksa kediaman Wira Yudha. Aku menemukan beberapa berkas perubahan nama dan pemilik Bank Arta Yudha. Di salah satu ruangan juga ditemukan bahan kimia yang mencurigakan. Kami mengambil sampelnya dan membawanya ke Lab Forensik  Kepolisian. Diketahui ternyata sampel tersebut adalah bahan peledak.

Beberapa hari kemudian, kami mendapat laporan terjadi aktivitas mencurigakan di sekitar Bank Arta Yudha. Aku bersama tim dari kepolisian segera menuju TKP. Mengejutkan, kami menemukan Wira Yudha bersama anak buahnya sedang memasang bahan peledak di sekitar brankas uang yang ada di Bank. Polisi menghentikan mereka dan menangkap semua orang yang ada di sana termasuk Wira Yudha. Esoknya ditemukan setumpuk uang di salah satu gudang tua milik keluarga Wira Yudha. Kasus ini akhirnya selesai dengan Wira Yudha sendiri yang dinyatakan sebagai pelaku utamanya. Ia didakwa sebagai pelaku perampokan uang negara, usaha sabotase peledakan bank dan penipuan. Hari Yudha juga tetap ditahan karena masuk dalam kejahatan menggelapkan uang.

Kasus ini akhirnya tercium media dan menjadi berita utama di berbagai stasiun televisi. Isu yang sangat sensitif ketika berkaitan dengan uang negara. Apalagi ini adalah dana yang akan dicairkan untuk masyarakat.

Mentari sore mulai tenggelam. Warna jingga menghias cakrawala. Tergambar siluet pria tinggi berbadan tegap itu berdiri membelakangiku. Tangannya menggenggam sesuatu. Aku tahu ia sedang menungguku. Kami berjanji bertemu sore ini di atap gedung Bank Arta Yudha.

“Hai Raffa, sudah lama menunggu?” sapaku.

“Tidak, aku juga baru sampai. Ada apa Kirana sampai mengajakku bertemu di sini?” tanya Raffa.

Aku merogoh sakuku. Aku serahkan butiran kayu hitam ke tangan Raffa yang menggenggam tasbih kayu. Seketika mata Raffa melotot.

“Kamu tahu?” tanyanya cepat.

“Ya. Aku tahu pemilik butiran kayu ini adalah kamu. Huruf yang terukir dalam butiran itu adalah huruf “p” dari kata “pandu”. Aku sudah curiga sejak melihat ada jarak yang berbeda di tasbihmu, seperti ada satu butir yang hilang. Aku juga tahu kalau Ayahmu Bapak Pandu Satya adalah pemilik Bank sebelumnya dari berkas yang aku temukan di rumah Wira Yudha. Bank tersebut dibeli  dan diganti namanya setelah bangkrut. Aku mendapatkan foto Pandu Satya dan melihat tangan kanannya mengenakan gelang tasbih yang sama denganmu,” ucapku sembari menunjukkan foto yang aku dapatkan dari internet.

“Luar biasa. Tidak salah orang-orang memujimu selama ini Detektif Kirana Dewi. Kamu benar Wira Yudha pernah mensabotase ledakan di pabriknya sendiri demi mendapatkan asuransi yang besar dari Bank Arta Pandu milik ayahku,” beber Raffa.

“Bagaimana kamu menggiring Wira Yudha hingga ia yang tertangkap tangan oleh polisi pada kasus kali ini?” tanyaku cepat.

“Perampokan dana pemerintah di bank sengaja dilakukan untuk memancing kepanikan Wira Yudha. Ia tidak akan mau namanya jatuh karena kasus dengan pemerintah. Aku sengaja mengulur waktu dan menjadikan kasus ini seperti buntu agar Wira Yudha semakin panik dan menerima saran untuk melakukan sabotase ledakan di Banknya sendiri sehingga uang itu akan dianggap hilang karena ledakan. Dengan begitu ia tidak akan disalahkan. Kuncinya ada pada Pak Pratama, orang kepercayaan Wira Yudha yang sebenarnya adalah tangan kanan Ayahku dulu. Ia yang bertugas memberi saran kepada Wira Yudha. Pada malam penangkapan itu, Pak Pratama jugalah yang memindahkan uang hasil perampokan ke gudang tua keluarga Wira Yudha,” jelas Raffa. “Aku hanya ingin Wira Yudha mendapat balasan atas perbuatannya dulu,” tambah Raffa lagi.

“Bagaimana dengan Hari Yudha?” tanyaku lagi.

“Kasusnya di luar dari rencanaku. Ia memang berniat menggelapkan uang perusahaan ayahnya. Mereka sama saja, orang orang licik yang hanya ingin meraih keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya,” jawab Raffa.

Pada akhirnya semua yang kita tanam itu yang akan kita tuai. Semua yang pernah diperbuat pasti akan mendapatkan balasannya. Jika bukan di dunia ini, pasti akan didapatkan di kehidupan setelah kematian.

 

Oleh: Rani YH

Artikel ini merupakan kiriman dari peserta WrC, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab peserta.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *