Diba Tesi Zalziyati. Itulah namanya. Lulusan Sarjana Psikologi. Sangat menyukai dunia anak. Menghabiskan beberapa tahun bekerja di klinik tumbuh kembang anak. Impiannya menjadi psikolog dan peneliti di bidang tumbuh kembang anak. Namun, Allah belum mengabulkan impian tersebut.

Seorang Diba juga memiliki impian menjadi penulis. Sebagai seorang Disleksia. Tidaklah mudah untuk merangkai suatu kata dan kalimat.

Itulah yang menjadi alasan seorang Diba selalu mengasah kemampuannya menulis, kapan pun, di mana pun. Ketika ide terlintas, langsung dicatat.

Tentu saja, perjuangannya tidaklah mudah. Selalu ada usaha yang menghabiskan energi, waktu, juga emosi.

Diba pernah merasa terpuruk dan bertanya pada Allah,
“Yaa Allah, kenapa semua impian dan keinginan saya, tidak ada yang Engkau kabulkan?”

Pernah menjadi manusia yang ketika bangun pagi tidak bersyukur, tidak bahagia. Karena merasa apa yang dilakukan seperti sia-sia.

Sampai di satu titik, Diba “bertransaksi” dengan Allah. Melepaskan semua impiannya, mencoba berdamai dengan keadaan, menerima ke mana pun Allah membawa takdirnya.

Takdir membawanya di titik ini. Diba dikenal sebagai penulis. Setelah merasa nyaman dengan keadaan, justru muncul ide, untuk membuka usaha penerbitan. Diba mencoba mewujudkan idenya.

Najmubooks Publishing, nama yang dipilih untuk usaha penerbitannya. Diambil dari bahasa Arab yang artinya Bintang.

Kenapa mengambil nama Bintang?

Diba berharap, di masa depan, siapa pun yang terlibat dalam usaha penerbitannya, penulis, penerbit sendiri dan semuanya, menjadi bintang di hati para pembaca buku di Indonesia dan di mana pun berada.

Ketika Diba menikah, hingga memiliki satu orang putri. Najmubook sempat terbengkalai. Namun, harapan dan impiannya menjalankan Najmubook tetap ada, bisnisnya harus berjalan lagi.

Tahun 2015, saat anaknya masih berusia dua bulan. Diba melihat status di media sosial milik teh Indari Mastuti (Direktur Indscript Creative), mengajak para perempuan untuk ikut Sekolah Perempuan. Itu adalah kelas atau pelatihan menulis khusus perempuan. Kelasnya berjalan selama tiga bulan.

Biasanya, hasil tulisan dari Sekolah Perempuan ini sudah melalui seleksi dan review, hingga akan siap terbit.

Diba tertarik dan mengikutinya.
Buku “Mimpi-mimpi Disleksia” , lahir dari sini.

Tulisan Diba diterbitkan dengan judul “Aku Disleksia”.
Buku yang pertama terbit di Najmubook adalah buku “Dengan Menyebut Nama Allah” , yang ditulis oleh Diba sendiri. Berisi kumpulan cerpen yang syarat makna dan penuh inspirasi.

Dari situlah Diba merasa Allah mulai membuka jalan untuk impiannya. Dipertemukan dengan orang-orang baik, percetakan yang mudah diajak kerjasama, para distributor, dan yang lainnya.

Namun, dari situ pula Diba sadar, bahwa Allah tidak selalu memberi kemudahan untuk membuat hambanya belajar. Ternyata susah juga menjual buku.
Selain harus memiliki keinginan yang kuat untuk menerbitkan buku, harus mampu menilai isi buku, konten yang disajikan, dan pengetahuan menulis seperti EYD dan lainnya.

Kerugian yang cukup besar pun dialami, untuk membayar proses belajarnya ini.

Namun, hal itu membuat Diba lebih kuat lagi.
Hingga buku “Aku Disleksia” diterbitkan di penerbitan mayor dengan judul “Disleksia” tanpa melalui proses revisi dan review.

Perjuangan seorang Diba terbayar.
Hingga kini Diba terus belajar dan berusaha berbagi kebaikan, salah satunya melalui komunitas yang dibuatnya yaitu WrC.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •