lukisan oleh lanjarjiwa

 

Takdir menyapa pejuang, “Badai telah datang!”

***

Pagi yang dingin, aku menenggak sebutir obat demi sebuah ingatan. Segalanya boleh hilang dari kepalaku bahkan hati, tapi tidak untuk Karenina. Ada hati yang terus memburunya, meski hanya kenangan yang bisa aku peluk.

Apa yang bisa menghancurkan seorang wanita? Ya, pisahkan dia dengan anaknya.

***

Pernikahan kami tidak direstui keluarganya, latar belakang keluargaku yang menjadi alasan. Orang tuaku bercerai. Sejak saat itu, berkali Mama kawin cerai. Dia menjadi wanita simpanan, dan melakukan kawin kontrak dengan beberapa laki-laki berkebangsaan luar negeri. Sedangkan Papa, dia sibuk dengan keluarga barunya yang tidak menginginkan kehadiranku.

Irwanlah yang kemudian menyelamatkan aku dari ketergantungan psikotropika, kemudian meminta izin Papa menikahiku, meski dia harus menentang keluarga besarnya agar aku diterima. Aku berterimakasih, dia memberi kehidupan yang baik, memberiku sebuah keluarga.

Kelahiran Karenina menjadi harapan dan semangat untuk meluluhkan hati keluarga Irwan, bayi cantik dan cucu pertama yang lahir di keluarga Irwan. Namun, kelahirannya menjadi babak baru perjalanan pilu yang harus aku tempuh. Mereka mengambil Karenina dari pelukan.

“Kamu sudah minum obatnya?” Irwan mengingatkan, dan aku mengangguk.

“Aku harus bertemu Ibumu.” Irwan hanya tersenyum. Itu permintaanku setiap pagi padanya, dia sudah terbiasa.

“Oke, Anna!” jawabnya singkat, meski dia tidak pernah membawaku menemui Ibunya. Wanita yang aku yakini mengambil Karenina.

Irwan tidak pernah melarangku keluar rumah, sebuah catatan kecil dan kamera menjadi penghuni wajib dalam tas. Itu sangat membantu untuk mengingat apa saja yang aku lakukan, dan siapa saja yang aku temui setiap hari.

Di sinilah aku kali ini, di depan sebuah rumah bergaya Eropa yang klasik. Rumah bercat putih dengan hiasan batu alam, halaman yang luas dengan pepohonan. Pagarnya dibiarkan terbuka tanpa dikunci, sehingga aku bisa masuk dengan mudah ke teras rumah. Kebun bunga tertata rapi, sepertinya rumah ini terawat dengan baik.

“Ibu Anna, rumahnya kosong, sebaiknya Ibu pulang.” Seorang tetangga yang tinggal di sebelah rumah menjelaskan, saat melihatku berkali menggedor pintu rumah. Ini rumah ke dua yang aku datangi, dan aku selalu terlambat. Dia sudah tidak mendiami rumah tersebut.

Aku mencatat kunjunganku dan mengambil gambar rumah melalui kamera. Tapi, hey! Aku menemukan catatan yang sama tiga jam yang lalu, bahkan enam jam yang lalu. Kemarin dan kemarinnya lagi, bahkan setiap hari. Aku melihat jam tanganku, sudah hampir Magrib, benarkah? Rasanya aku baru saja sampai ke rumah ini setelah menghabiskan sarapan pagi tadi.

Sebuah mobil sedan honda city berwarna hitam berhenti di halaman, “Anna, ayo pulang!” Itu Irwan, suamiku. Dia tahu aku disini rupanya. Mobil pun melaju meninggalkan rumah bergaya Eropa, setelah Irwan mengucapkan terimakasih pada tetangga yang menyapaku tadi.

“Ibu tidak tinggal disini lagi, sudah terlambat.” Aku menjelaskan, Irwan mengangguk.

“Aku harus bertemu Ibumu.” Dadaku bergemuruh, Irwan hanya menggenggam tanganku. Malam itu Irwan membawaku pulang, dan sejuta kebingungan hinggap di dada, menyesakkan liang napasku. Benarkah aku menghabiskan waktu berhari-hari mendatangi rumah itu? Bahkan hari ini pun tiga kali aku bolak balik ke sana. Aku lupa.

 

“Alzheimer stadium awal.” Dokter menjelaskan diagnosa keluhan sakit kepala yang aku alami hampir satu tahun. Usiaku tiga puluh tahun saat mendapat kabar tersebut. Kembali, aku terpukul. Kini, tiga tahun sudah aku lewati, satu demi satu alzheimer mengambil ingatanku.

Aku mengalami demensia di usia muda, itu sangat membingungkan. Hampir saja Irwan menyerah dengan pernikahan kami, aku nelangsa. Kenangan Karenina dan air susu yang terbuang sia-sia, kerap membuatku histeris dan meraung. Hanya itu yang aku ingat dengan baik, kematian Karenina. Seseorang mengambilnya dari pelukanku, dia masih begitu kecil dan rapuh. Dia membutuhkan air susuku, hingga dehidrasi.

Entah berapa malam aku menunggui tubuhnya di Rumah sakit, ketika Karenina dikembalikan padaku dengan keadaan tubuh yang semakin lemah. Tidak ada satu pun makanan yang bisa masuk, bahkan air susuku tidak mampu ia telan. Hingga tubuh kecilnya tidak sanggup bertahan, dan meninggalkanku dengan sejuta duka, pedih dan amarah.

“Kamu sudah mencatatnya Anna, baik tanggal dan harinya, kita akan bertemu Ibu bulan depan.” Suara Irwan memecah lamunan.

“Begitukah?” Aku lupa.

“Sudah hampir satu bulan kamu bolak-balik ke rumah itu, sudahlah!” Sesekali Irwan memalingkan wajahnya mencari pandangan mataku.

“Aku harus bertemu Ibumu.” Selalu itu yang aku ucapkan pada Irwan.

“Anna, tidak ada gunanya kamu mencari Ibu, semua itu tidak akan mengembalikan Karenina!” sahut Irwan lagi.

“Aku tidak meminta Karenina dikembalikan.” Kembali bulir bening jatuh dipipiku.

“Lalu?” Irwan bertanya.

“Ibu punya utang permintaan maaf padaku, dia mengambil hakku sebagai seorang Ibu.”

“Aku memohon maafmu, atas nama Ibu. Dia Ibuku, dan kamu adalah tanggung jawabku. Maafkan Ibu.” Irwan meminta dengan tulus.

“Aku ingin mendengar langsung permintaan maaf dari Ibu.” Itu yang kuinginkan.

 

Bertahun aku memburu bayangan Karenina, untuk sebuah kata maaf yang ingin aku dengar langsung dari Ibu. Hanya itu. Aku membutuhkan permohonan maaf yang tulus, dan perkataan maaf yang benar untuk menyembuhkan luka dan amarah. Sebelum alzheimer mengambil Karenina dari ingatanku. Tolong.

Rupanya, sikapku ini terlihat begitu berlebihan di mata keluarga Irwan. Aku tidak peduli. Meski keluarganya sudah memintakan maaf atas nama Ibu, aku ingin mendengarnya secara langsung. Sejak kematian Karenina empat tahun lalu, Ibu menghilang karena aku terus memburunya meminta penjelasan. Tidak ada satu orang pun yang membantuku bertemu dengannya.

Aku mengalami tekanan hebat setelah kematian Karenina. Sebagian hidupku sudah pergi bersamanya, sebagian lagi aku habiskan hari-hari mencari keberadaan Ibu untuk sebuah kata maaf, atau bahkan mendapatkan pelukan. Tanda bahwa dia menyadari kesalahannya. Apakah itu berlebihan?

Sungguh, aku tidak akan menyerah.

***

Pejuang berbisik kepada takdir “Aku lah badai itu!”

Oleh DIni Lestari

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *