•  
  •  
  •  
  •   
  •  
  •  

Oleh: Wulan Dewi

“Dari mana saja kamu?” Lukman bertanya pada anak sulungnya yang masih membelakangi sambil menutup pintu. Nada bicaranya tidak biasa, tinggi dan penuh penekanan.

Damar tidak menjawab, hanya berbalik menatap dan berlalu menuju kamarnya. Mata Lukman memerah, semerah jarinya yang mengepal, menahan emosi karena merasa tidak dihargai. Baru satu langkah kaki hendak menuju kamar Damar, Amrita menahan, “Lukman, anakmu baru pulang futsal. Ini hari selasa, kamu lupa?” Amrita berhasil, Lukman urungkan niat, berbalik menuju kamarnya.

Meski sudah berpuluh tahun menikah, mereka masih memanggil nama jika bukan di hadapan anak-anak. Lukman bukan tipe lelaki yang mudah marah, apalagi pada anak. Baru beberapa bulan ini saja sifatnya berubah. Sebagai istri tentu sangat menyadari itu.

Amrita menghela nafas, melegakan dada yang sesak. Mengetahui ada yang lain dari suaminya, bukan hal mudah bagi pernikahan yang sudah dijalani dua puluh tahun dan mempunyai dua anak. Asam garam pernikahan sudah dikecapnya, perjuangan untuk memiliki anak, masalah ekonomi dan semua kesulitan yang jadi bumbu dalam pernikahan, sudah sama-sama dilalui dengan baik. Tapi, tidak untuk masalah kali ini, kesabaran sudah bukan pilihan baginya.

“Ibu, libur sekolah besok, Rayya boleh main ke rumah Kakek Baskoro?” Rengek Rayya, putri kedua Amrita dan Lukman.

“Boleh, Sayang. Tapi, nggak nginep ya, hanya main saja. Besok pagi ibu antar, sorenya dijemput pulang.” Amrita tidak bisa menolak permintaan putrinya.

“Asik. Terima kasih, Ibu.” Rayya melonjak girang.

Baskoro adalah paman Amrita, adik dari ibunya. Usianya sudah 68 tahun, jalan pun sudah dibantu tongkat. Rayya senang sekali jika bermain dengan Baskoro, karena suka mendongeng. Mungkin karena dulu berprofesi sebagai guru SD, jadi bisa membuat anak kecil betah bersamanya.

Keesokan paginya, Rayya diantarkan ke rumah Kakek Baskoro. Tidak lama setelah menekan bel rumahnya, Anggita, putri Baskoro membukakan pintu untuk mereka. Sejenak Amrita tertegun menatap Anggita, sedang yang ditatapnya langsung mengalihkan pandangan pada Rayya, “Halo, Sayang, semakin cantik saja keponakan tante. Apa kabar?”

“Baik, Tante. Kakek Baskoro ada? Aku mau main di sini hari ini. Mau dengar dongeng kakek lagi.” Rayya menjawab dengan ceria.

“Oh gitu. Kakek, ada dong. Lagi minum teh di kebun belakang. Rayya langsung ke sana saja, ya.” perintah Anggita. Rayya berlari memasuki rumah, setelah mencium tangan Ibunya.

Anggita mempersilahkan Amrita untuk masuk, namun ditolak dengan halus. Amrita beralasan ada hal yang harus ia kerjakan di rumah.

Damar sudah menunggu saat Amrita sampai di rumah, hendak berpamitan untuk main ke rumah temannya. “Ibu, Damar tahu kalau ibu menyembunyikan luka, jangan sakiti diri ibu sendiri. Damar ingin selalu melihat ibu Bahagia.” Tiba-tiba sulungnya mengatakan hal di luar dugaan.

Amrita sebenarnya mengetahui, apa yang membuat suaminya marah ketika Damar pulang sore, saat jadwal futsal tempo hari. Dia melihat Bapaknya saat di perjalanan pulang, sedang bersama perempuan lain di dalam mobil. Entah menuju ke mana. Damar hanya bisa menebak, ada yang salah, karena itu bukan kali pertama melihat Bapaknya dengan wanita lain. Wanita yang sama, tapi Damar tidak tahu siapa wanita itu.

Remuknya hati, rasa perih saat mengetahui ada wanita lain yang dekat dengan suaminya, belum seberapa. Dibandingkan dengan kenyataan bahwa sang anak mengetahui hal itu. Amrita lebih memikirkan psikologi anaknya. Begitu kuatnya Amrita menahan diri, mengontrol ledakan emosi yang sebenarnya bisa meluap sejak lama. Hanya demi kedua anaknya.

Sore hari, saat menjemput Rayya di rumah Paman Baskoro. Amrita kembali bertemu dengan Anggita, yang membukakan pintu untuknya.

“Rayya tidur, Mba. Ditemani Bapak di kamar. Tunggu saja, mungkin sebentar lagi bangun.” ujar Anggita, setelah Amrita menanyakan keberadaan Rayya.

“Baik, Aku akan menunggunya di sini.” Amrita menolak untuk masuk.

Anggita mematung di tempatnya, masih memegang daun pintu yang dibukanya lebar untuk Amrita. Berharap Kakak sepupunya mau memasuki rumah.

“Jangan harap aku mau menginjakkan kaki di rumah ini, kalau bukan demi Rayya dan Bapakmu. Dan jangan kamu kira, aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku.” Amrita sudah tidak bisa menahan diri. Setelah apa yang dikatakan Damar tadi pagi, sudah cukup toleransi waktu yang diberikan untuk meniti hatinya.

Perempuan yang dekat dengan suaminya, tidak lain adalah Anggita, sepupunya sendiri. Karena kebenaran inilah yang membuat Amrita cukup sulit bertahan. Penghianatan mereka terlalu menyakitkan.

“Masih kuingat dua puluh tahun yang lalu, saat aku mengenalkan Bapakmu pada Lukman, sebagai waliku. Kau masih berusia sepuluh tahun. Begitu manjanya kamu pada Lukman, seolah menemukan sosok kakak atau bapak yang sudah lama hilang dari hidupmu. Lukman menerimamu sebagai adikku, memanjakanmu dan aku pun mengizinkannya. Tidak kusangka, kamu menginginkan lebih dari itu. Aku tidak akan bertanya bagaimana perasaanmu, atau bagaimana jika kamu ada di posisiku, bahkan apa yang kau pikirkan saat kamu melakukan itu. Aku tidak peduli. Mulut dan hatimu terlalu busuk untuk menjawabnya.” Amrita meluapkan apa yang selama ini membuat dadanya sesak, tanpa menatap Anggita semua kata meluncur begitu saja.

Anggita masih merapatkan mulut, genggaman tangan pada daun pintu semakin mengeras, hingga jarinya memerah. Semerah matanya yang berusaha kuat menjaga air mata tidak menetes. Menangis pun akan sia-sia. Tidak menyangka kakak sepupunya tahu semua. Dia sadar kalau apa yang dilakukan itu salah, nafsu mengalahkan logika untuk bisa menekan semua perasaannya pada Lukman. Meski selama ini Lukman berusaha keras menolak hatinya, meyakinkan bahwa hanya menganggapnya adik. Anggita bersikeras ingin mendapatkan lebih.

Suara tongkat Baskoro yang berjalan mendekati mereka, membuat Amrita berbalik. Hanya demi menghormati Paman, yang dianggapnya sebagai bapak, setelah orang tuanya meninggal.

“Jika apa yang kudengar itu benar, berarti aku yang salah. Terlalu menyalahkan keadaan setelah ibunya meninggal, hingga tenggelam dalam kesibukan. Aku tidak mengurus anak-anakku dengan baik.” Sambil menatap Anggita, suaranya berat berkata penuh penyesalan, entah menyesali masa lalu atau menyesali perbuatan anaknya.

Anggita masih terdiam, menundukkan kepala sangat dalam.

“Ibu, sudah datang?” lirih Rayya memanggil ibunya dari arah belakang Baskoro.

“Eh … cucu kakek sudah bangun. Iya, Nak. Ibumu sudah menjemput.” Baskoro membelai kepala Rayya.

Setelah mengambil barang miliknya, lalu berpamitan pada kakek dan tantenya, Rayya merangkul tangan Amrita. “Lihat, Bu, aku dikasih jepit rambut ini sama tante Anggita. Cantik, kan?” sambil menunjukkan jepit rambut berhias batu berwarna ungu di rambutnya. Jepit yang sama, yang pernah Anggita temukan di dalam tas Lukman.

Amrita pulang tanpa pamit, menggenggam tangan Rayya menuju mobilnya. Tangan kirinya berusaha mengusap bulir bening yang turun tanpa permisi, agar tidak dilihat Rayya. Hatinya masih dihiasi sayatan sembilu tajam, yang akan terus berbekas sampai kapan pun.

“Lukman, aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu, juga Anggita! Juga tidak memintamu untuk memilih atau pergi. Aku akan tetap di sini, bukan demi anak-anak, bukan demi utuhnya rumah tangga kita. Ini untuk diriku, yang sudah berjuang sendiri sejauh ini. Jika kau sadar akan kelakuan busukmu, silahkan kamu maafkan dirimu sendiri. Jangan libatkan anak-anak dalam masalah ini dan mengorbankan rumah tangga kita.” Begitu tegas Amrita bicara pada Lukman. Malam itu juga, Amrita ingin mengakhiri semua sandiwaranya. Kepura-puraannya, anggapan Lukman bahwa dia tidak tahu apa-apa.

Sudah lama Anggita tidak merasakan oksigen dengan mudah masuk ke dadanya, terbebas dari belenggu yang menyiksa dirinya sendiri. Lukman yang memulai. Amrita pun membiarkan Lukman untuk mengakhiri semuanya.

Lukman terdiam, menunduk dalam duduknya di hadapan Amrita. Wanita yang amat sangat dicintai tahu semuanya. Belum saatnya Lukman bersuara, hanya ingin Amrita tahu hatinya hanya untuk satu wanita. Tidak pernah wanita manapun, termasuk Anggita menggeser posisi itu. Suatu hari, Lukman akan menjelaskan semuanya, meski tidak akan pernah bisa menghilangkan luka yang sudah ia torehkan di hati Amrita.

_END_

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *