• 68
  •  
  •  
  •   
  •  
  •  
    68
    Shares

Ruangan sempit itu sudah tiga tahun mereka tempati. Makan, tidur bahkan ibadah pun di situ. Rumah petak ini milik Supangat, seorang bandar barang bekas di Jember, kenalan Ramli.

Sehabis tahajjud, Ramli memandang Laila yang  sedang tidur, di sebelahnya Soleh yang sebentar lagi berusia dua tahun.  Lelaki itu berpaling ke arah lain, sesak di dadanya seakan mencekik leher. Merasa berdosa   menjadi penyebab kesulitan hidup anaknya. Maafkan ayah yang lemah, Lela. Ya Allah … ampuni hamba,   bisik bathinnya. Bulir bening jatuh ke pipinya.  Perlahan  dia beringsut   ke sudut, kepalanya berbantal dua stel baju. Bola matanya  menerawang ke langit-langit yang berlubang bekas bocor.

*******

“Hutang kau lima puluh. Tak bayar sekarang, nanti bisa lebih besar!” Sahotman mengancam.

“Masa, Lae? Gimana ngitungnya? Waktu pinjam pada kau hanya 15 juta”. Ramli heran.

“Ah! Tak usah banyak tanya, kau tak akan paham. Sekarang bayar saja cepat!”

“Tapi …”

Pintu terbuka, muncullah Tigor sedang menarik seseorang. Nampaknya perempuan karena memakai rok abu-abu. Jilbab putihnya melilit muka, disengaja.

“Kau pulang saja. Anggap lunas hutang kau”, Sahotman menyuruh Ramli lalu memberi kode  kepada Tigor.

Perempuan itu meronta walau lemah sekali. Tigor dan Sahotman menarik, sampai lengan bajunya sobek. Terlihat bercak coklat di bawah ketiaknya. Ramli maju,  nampaknya perempuan itu dalam bahaya.

“Pergi kau bodat, sudah kubilang!” Sahotman berteriak, “apa kau mau hutangmu kutagih lagi hah? Paok!”

Ramli pun mundur dan pulang dengan hati gundah.

*****

“Kau mempermalukan keluarga!” Laila ditampar Zulham, kakaknya.

“Tak punya akhlak!” Ibunya  ikut  memukul. Laila hanya bisa menangkis dan menangis.

“Hei! Kenapa kau pukul anak kita?” Ramli menengahi.

“Dia,  Bang! Hamil 3 bulan, tidak mengakui siapa pelakunya”.

“Kau melakukannya dengan Si Chaidir !?” Ramli geram.

Tadi pagi Laila diantar ke puskesmas karena lemas dan selalu muntah. Kenapa jadi begini, pikir Ramli. Laila pun tidak mengerti kenapa dan tidak mengaku melakukanya bersama chaidir. Ibu dan  kakaknya menarik Laila,  hendak mengurungnya sebagai hukuman, menyebabkan bolero yang dikenakan Laila tertarik ke atas. Bercak coklat ! Bagai kilat,  ingatan Ramli melayang ke peristiwa beberapa bulan lalu waktu hutangnya dianggap lunas. Tanga! Ramli mengumpat dalam hati.

“Buang saja anak ini!” Ibu Laila naik pitam.

“Astaghfirulloh, dek! Dia anak kita!” Ramli tidak setuju.

“Tak perduli! Pergi kau anak sialan!” Lanjutnya.

“Tidak! Dia tetep disini”.

“Aku tak mau, bang! Bisa tak punya muka, kita”.

“Baiklah. Lela ayo kita pergi!” Ramli memutuskan dengan rahang terkatup menahan geram.

“Abang..?” Rosmeinar terperanjat.

“Kau ibu keras kepala tak punya hati! Apa tak sadar semua terjadi karena ada andil salah kau?” Rosmeinar terperanjat.

“Kau memaksaku pinjam hepeng sana-sini”. Ramli mencoba menerangkan.

Mata Rosmeinar mulai basah.

“Kau tahu? Abang terlilit hutang  gara-gara kau yang sok kaya bergaya sosialita!” Ramli emosi.

Ramli bergegas diikuti Laila. Dia hampir tak bisa memaafkan diri sendiri.  Tapi melawan Sahotman sama saja cari mati.

******

Subuh itu Ramli bersiap kerja. Soleh, yang masih terlelap tidur,  sudah dibungkus   selimut kumal di dalam gerobak.

“Ayah …, suara Laila bergetar, hari ini ujian terakhir. Doakan  Lela, ya”.

Ramli mengelus rambut anak perempuannya lalu dibacakannya doa.

“Ayah titip Soleh di panti,  sore kembali lagi, hendak potong rumput”.

“Lela saja. Habis sekolah, cuci piring dulu di rumah Bu Maesaroh lalu ke panti”

Panti yang dimaksud adalah panti asuhan anak tempat Soleh dititipkan. Ramli  memohon kepada Bu Maesaroh, pemilik panti asuhan, agar bisa menitip Soleh sepanjang siang selama  dia bekerja memulung sampah. Hati Bu Maesaroh terketuk, bahkan  Kadang dia memberikan pekerjaan untuk Ramli dan Laila.

******

Hari ini Laila resmi bercerai dari Jamal, lelaki cacat yang disuruh Pak Supangat untuk menikahi Laila dengan hadiah lima  juta Rupiah.  Soleh sudah punya akte kelahiran sedang  Laila lulus D1 dan sekarang bekerja sebagai staff administrasi  sebuah kantor swasta. Rasanya Laila terbebas dari beban berat, hidup terasa sedikit lebih ringan. Ucapan ayahnya yang selalu menjadi penyemangatnya, Lela, kamu harus sukses.

Laila membeli sebuah gawai untuk kejutan bagi ayahnya. Betapa bahagianya Ramli, perjuangannya tak sia-sia, Laila bisa bertahan, tidak terpuruk karena nasib buruk.

Hal pertama yang Ramli lakukan adalah memijit nomor yang selalu diingatnya. Tapi nomor yang dituju malah meminta video call.

“Pulanglah bang, adek ingin mencium kakimu. Maafkan adek. Adek rinduuu. Mana Lela…? Lelaaaa … maafkan Ibu, nak!”, Suara Rosmeinar histeris, Air matanya berhamburan, “si parjahat matua sudah mati ditusuk orang”

“Abang akan pulang, dek …. Bertiga”.

Di sudut kamar,  Laila terisak.


Kosa Kata

Lae  = sapaan kepada ipar,  suami saudari,  saudara istri atau kepada laki-laki yang berbeda marga

Bodat = monyet

Paok = bodoh. Kata makian

Bolero = jeket pendek (fashion)

Hepeng = uang

Tanga = Bangsat

Parjahat matua = penjahat tua

 

oleh : Willy Asmarani

Artikel ini merupakan kiriman dari peserta WrC, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab peserta.

  •  
    68
    Shares
  • 68
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *