•  
  •  
  •  
  •   
  •  
  •  

Oleh: Rustantini

Lukman membuka lebar kaca mobil, menikmati udara sejuk kota kelahirannya, Kuningan.  Ia memilih kembali ke kota ini, setelah ayahnya wafat enam bulan yang lalu.  Bu Sastro mulai sakit-sakitan pasca meninggalnya sang suami.  Sebagai anak satu-satunya, Lukman lebih memilih untuk mutasi dari pekerjaannya sebagai dokter spesialis paru-paru di RSCM untuk mengabdi di kota ini. Saat ini, Lukman tercatat sebagai dokter spesialis paru-paru di RSUD 45 yang siap bertugas esok lusa.

Pajero miliknya mulai memasuki pekarangan rumah yang asri.  Halaman luas dengan aneka pohon buah-buahan, membuat rumah tempat ia dilahirkan ini tidak pernah panas meskipun matahari menyengat.  Dari pintu depan terlihat ibunya tergopoh-gopoh keluar, diikuti oleh Bi Inah, khadimat yang setia mengurus keluarganya semenjak Lukman kecil.

Lukman mengembangkan senyum dan tidak sabar menaiki anak tangga menuju teras rumah bergaya etnik itu. Ibunya memburu Lukman dengan kerinduan yang teramat dalam.

Wanita paruh baya itu memeluk Lukman erat, seolah  ingin mencurahkan segala isi hati, lalu tergugu di balik kesepiannya. Bi Inah bekaca-kaca menyaksikan ibu dan anak melepas rindu.

“Hmmm … kayaknya ada yang kangen-kangenan nih.” Seseorang berkata dari balik pintu.  Tampak Arini keluar sambil membawa sebuah nampan berisi kue tart dan minuman. “Aku pesan ini khusus buat kamu, lho.” Ujar Arini sambil mengerlingkan mata.

Bu Sastro menuntun Lukman untuk duduk dan menyuruh Bi Inah membawa semua barang bawaan Lukman ke kamarnya. Belum hilang rasa keterkejutan Lukman, “Kok, kamu bisa ada di sini?” Lukman hanya memandang Arini sekilas. Ia agak jengah dengan penampilan Arini yang berpakaian minim dan bermake-up tebal.  Padahal, lima tahun yang lalu ia adalah gadis lugu.

“Arini baru pulang dari London, belajar ilmu bisnis katanya. Tapi sudah satu tahun belakangan ini dia mengelola usaha Papanya. Restoran dan Cotage milik keluarga.” Ibu yang menjawab pertanyaan Lukman.

“Maaf ya, aku nggak bisa datang ketika Om Sastro meninggal, aku lagi ada pertemuan dengan mitra usaha di Singapura.” Arini menghampiri Lukman dengan perasaan bersalah. Ia memegang pundak Lukman pelan. Tapi ditepis oleh Lukman.

“Ambu, Lukman ke kamar dulu ya. Lelah, nih.” Lukman bangkit dari tempat duduknya.

“Eeeh … nanti dulu Lukman, Arini jauh-jauh dari Cirebon ke sini, cuma mau ketemu kamu.” Bu Sastro menarik lengan Lukman. Lukman duduk kembali.

“A, ini cobain deh, kue ini enak banget. Dari bakery terkenal di kota ini.” Arini tersenyum manis sambil menyodorkan sendok berisi potongan cake ke mulut Lukman.  Cepat-cepat Lukman mengambil piring di tangan Arini. “Biar aku saja.” Lukman makan tergesa.

Bu Sastro berdehem, “Pelan-pelan makannya, Lukman.” Yang ditegur hanya tersenyum hambar.  Ia risih dengan kehadiran Arini dan gaya centilnya itu.

Arini melirik arloji di tangannya, “Tante, Arini ke restoran dulu ya, ada tugas yang harus Arini kerjakan.” Arini bangkit dan meraih tas jinjing mahalnya. Lalu memeluk Bu Sastro dan Lukman, tak lupa mencium pipi kanan dan kiri tanpa bisa dielak, Lukman terkejut. Hampir saja ia memaki Arini kalau tidak memandang perasaan ibunya.

Lukman buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan muka. “Ya Allah … Astaghfirullah. Kenapa Arini bisa berubah 360 derajat seperti itu?” Batinnya kesal dan berharap ia tidak bertemu wanita itu lagi.

Lukman merebahkan tubuhnya di dipan.  Rusak sudah rencana Lukman untuk berduaan bersama Ambu hari ini.  Lukman berusaha keras memejamkan mata. Namun ia tetap tak bisa, hanya memandang langit-langit kamar lalu teringat dirinya lima tahun silam.

Lukman,  Aisyah dan Arini.  Mereka adalah tiga bersahabat, yang disatukan dalam sebuah organisasi sekolah PMR. Entah mengapa mereka bertiga menjadi sangat dekat, mungkin karena Arini yang sering memberi perhatian kepada Lukman dengan memberinya banyak makanan ketika jeda latihan.

Lukman adalah sosok yang dikagumi banyak orang, ia sendiri tak menyadari.  Salah satunya adalah Arini.  Tapi sayang, Arini pun tidak menyadari bahwa sesungguhnya sudah lama Lukman menyimpan hati kepada sahabatnya yang bukan hanya satu organisasi melainkan juga satu bangku di kelas, yaitu Aisyah.

Entah mengapa Lukman selalu merasa hatinya nyaman bila meilhat wajah teduh Aisyah.  Tutur katanya yang lembut dan selalu terlihat paling santun.  Bukan hanya itu, yang membuat Lukman tertarik kepada adik kelas satu tingkatnya itu, Aisyah memiliki ketegasan di balik sifat lembutnya.  Aisyah memang tak secantik Arini.  Bahkan hampir semua siswa laki-laki di sekolahnya tak pernah membicarakan Aisyah, sebagaimana Arini yang selalu menjadi buah bibir.

Aisyah dan Arini baginya sangat tidak bisa disamakan. Arini dengan gaya casual, rambut tergerai sepinggang.  Sementara Aisyah dengan jilbab yang tertutup rapat dan jarang bersuara. Aisyah adalah sosok pendiam tapi cerdas. Ia hanya akan berbicara di forum yang mengharuskan ia untuk bicara atau adu argumentasi. Sementara Arini adalah sosok idola di sekolah. Selain cantik, ia adalah mayoret di grup drumben, juga vokalis di grup band sekolah yang sudah menyabet beberapa penghargaan.

Arini yang kala itu polos dan energik, pernah secara langsung mengungkapkan isi hatinya kepada Lukman, tapi tidak pernah dibalas.  Karena ia hanya ingin menyimpan satu hatinya yang untuh kepada gadis pujaannya, Aisyah.

“Maaan! Makan dulu.”  Teriakan Ambu membuyarkan lamunan Lukman.

Ia bergegas bangkit dari tempat tidur dan merapikan bajunya. Dilihatnya, Bi Inah sedang sibuk menyiapkan makanan di teras belakang rumah. Sementara Ambu terlihat sedang berbicara dengan beberapa karyawan usaha rumahan keluarga, yaitu ‘Tape Ketan Sastrowijaya’. Usaha inilah yang dikembangkan almarhum ayah Lukman sampai bisa menghantarkannya menjadi dokter seperti sekarang.

Sudah lama pula almarhumah ayah Lukman menjalin kerjasama usaha dengan ayah Arini. Almarhum Ayah Lukman menjadi mitra dari restoran dan cotage milik keluarga Arini. Mereka rutin setiap minggu menitipkan tape ketan yang dipasarkan di beberapa restoran, cotage dan pusat oleh-oleh di kota Kuningan, Beber dan Cirebon. Salah satunya adalah pada usaha yang dimiliki keluarga Arini.

Siang itu Lukman, Ibu Sastro, Bi Inah dan karyawan lainnya menikmati makan siang yang sudah disiapkan, sebagai rasa syukur atas berkumpulnya kembali Lukman di rumah itu. Dilanjutkan salat Dzuhur berjamaah di musholla keluarga yang diimami oleh Lukman.

Malamnya, Ambu berbicara serius kepada Lukman.  Sengaja mencari waktu yang tepat, agar putranya itu tidak terkejut akan berita yang akan disampaikan olehnya. Di antara gemericik kolam ikan belakang rumah, Ambu mulai membuka percakapan.

“Nak, apa yang akan Ambu bicarakan ini ada hubungannya dengan kedatangan Arini tadi siang.”

“Maksud Ambu?”  Lukman mengernyitkan dari dan menatap Ambu tak mengerti.

“Iya, Arini datang, karena memang dia itu calon istrimu.”  Ujar Bu Sastro datar.

“Apa?”  Lukman terkejut dan berusaha mengendalikan diri di hadapan Ambu tercintanya.

“Iya Lukman, Ambu memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan Arini.  Setelah beberapa waktu lalu berkunjung ke restoran keluarga Arini, Ambu dan ibu Arini sepakat menjodohkan kalian.  Keberlangsungan usaha keluarga ini juga banyak dibantu oleh keluarga mereka.” Ambu sepertinya tak ingin menerima penolakan. “Kamu tidak bisa menolak perjodohan ini Lukman.” Ambu tegas dan berlalu pergi.

Lukman hanya terpaku di tempatnya.  Ada rasa kecewa dan marah yang tidak bisa ia sampaikan. Hanya kepalan tangan yang ia tinju ke udara untuk melepas rasa galau yang melanda.

Satu bulan sudah, Lukman bertugas di RSUD 45.  Dan selama menikmati perannya sebagai seorang dokter, ia sudah mulai bisa melupakan perjodohan itu. Meski Arini kerap datang, Lukman tidak terlalu mempedulikan. Ia lebih memilih sibuk dan tenggelam mengurus pasien-pasiennya.

Dan hari ini, adalah hari pertama Lukman ditugaskan oleh Gugus Tugas Covid-19, untuk menjadi team dokter yang menangani kasus pandemi Covid-19 di cluster Ponpes Husnul Khotimah.

Dengan berbalut seragam APD lengkap, telaten ia mengurus para pasien yang tak lain adalah para santri dan asatiz yang terkonfirmasi covid-19. Ia merasa iba dengan para santri penuntut ilmu ini. Apalagi Lukman sudah beberapa tahun ini aktif sebagai donatur para penghafal Al-Qur’an untuk wilayah Jawa Barat. Ketika di tugaskan di ponpes ini, ia merasa tak asing, bahkan sangat bahagia.

Menjelang siang, lelah mulai menyapa. Ia menyandarkan punggung di kursi depan ruang isolasi ikhwan. Ketika tanpa sengaja ia melihat sosok wanita yang membawa box makanan, sepertinya akan dibawa untuk santri akhwat di ruang isolasi.

Langkahnya tampak anggun, jilbab pink pastel yang dikenakannya berkibar tertiup hembusan angin sore. Dalam beberapa detik Lukman menikmati pamandangan yang menyejukkan mata itu. Seolah sadar sedang diperhatikan, wanita itu menengok ke arahnya, lalu Lukman pun terkesiap setelah menyadari siapa wanita itu. Wanita itu berlalu setelah menyunggingkan senyum tipis ke arah Lukman.

“Aisyah!” Panggil Lukman keras. Wanita itu menengok. Hanya ada mereka berdua di sana. Meski berjauhan beberapa meter, Lukman yakin tak salah lihat. Wanita itu adalah pujaannya selama ini. Dan meski sudah lina tahun lamanya wajah itu tidak berubah. Tetap lembut dan teduh. Di balik gamis dan kibaran jilbabnya yang anggun.

“Pak Dokter, memanggil saya?” Ujar Aisyah tak yakin.  Sambil menunjuk ke dirinya sendiri.

“Iya, Ukhti.”  Tunjuk Lukman sambil  tersenyum sumringah lalu membuka kacamata APDnya, “masih ingat saya?” lanjut bertanya.

Aisyah terkejut, ketika menyadari siapa yang ada di hadapannya.  Tapi, ia tak mampu menjawab. Ada binar di matanya. Bibir Aisyah bergetar. Sejujurnya Aisyah pun rindu pada sosok Lukman, tapi dibuang pandangannya ke arah lain.

Spontan Lukman mendekat beberapa meter. Sepertinya ia tak mau lagi membuang-buang waktu dan membiarkan gadis itu berlalu begitu saja.

“Maukah Ukhti menikah dengan saya?”

Aisyah terkejut, mukanya merona merah.  “Datang saja dan temui Abah, di rumah.” Ujar Aisyah malu-malu sambil berlalu pergi.

“Yess!” Lukman melonjak kegirangan sebelum menyadari beberapa santri yang cekikikan di balik jendela kamar.

“Ehmm … ehmm.” Lukman berdehem sambil menahan rasa malu. Lalu ia berjalan gagah ke arah ruang team dokter. Dia segera melepaskan pakaian APD dan bergegas pulang menemui ibu.  Tugasnya selesai hari ini.

“Ambu, Lukman bersedia melamar wanita itu sekarang juga.” Ujar Lukman mantap.

Bu Sastro terperanjat, bola matanya membulat dan senyum merekah. Ditaruhnya beberapa kotak tape ketan yang sedang dikemas dan siap dikirim. Diraih pundak anaknya dan ditatap wajahnya dengan sumringah.

“Jadi, kamu sudah siap menikahi Arini?” Ibunya tersenyum lebar.

Lukman salah tingkah. Bingung untuk menjelaskan kesalahpahaman ini. “Bukan, Ambu. Bukan dengan Arini.” Sejenak Lukman terdiam. “Lukman ingin menikah dengan Aisyah.” Ujarnya  sambil menatap Ambu penuh harap.

Seketika wajah Bu Sastro berubah, “Apa?!” Bu Sastro berteriak keras. “Aku tidak akan menyetujuimu menikah dengan wanita selain Arini, camkan itu!” Ambu berlalu cepat menuju kamarnya. Lukman terkesima.

Bu Sastro benar-benar marah. Berari-hari ia tak mau makan, mengurung diri di dalam kamar.  Lukman semakin khawatir dengan kondisi ibunya yang mulai terserang maag.  Sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Selama itu pula Lukman kebingungan membagi waktu. Antara tugasnya kepada negara, juga kepada Ambu. Sayang dalam hari-hari berat yang dilaluinya itu, seseorang yang diharapkan Bu Sastro berada di sisinya malah tidak kunjung datang.

Aisyah yang sudah beberapa kali berjumpa denga Lukman di pondok pesantren mendengar kabar mengenai ibunda Lukman. Bersama ibunya, Aisyah beberapa kali menjenguk Bu Sastro. Sementara Arini sibuk dengan urusan bisnisnya di pulau Batam.

Bu Sastro divonis menderita penyakit maag kronis dan mengarah pada Hepatitis. Aisyah menyadari kesepiannya dan kesakitan yang dirasakan  wanita  paruh baya itu. Bahkan disela-sela waktu mengurusi anak-anak di pondok, Aisyah dengan telaten mengurus Bu Sastro. Sementara Lukman tak bisa sering-sering mengurus ibunya, karena kondisi di pondok mengharuskan untuk fokus pada pekerjaannya. Dalam kondisi lemah tak berdaya itu Bu Sastro menyadari kesalahannya.

“Lukman, bawa Aisyah ke mari. Ambu ingin bertemu lagi dengannya.” Pinta A suatu hari. Lukman terdiam.

Bu Sastro meraih  tangan putra semata wayangnya, “Lamar Aisyah, Lukman.  Ambu merestuimu. Ambu tahu pilihanmu yang terbaik.” Lukman terpana, menatap Ambunya tak percaya.

“Sagera temui Ayah Aisyah sekarang.” Ambu meyakinkan.

“Benarkah Ambu?” Lukman berkaca-kaca. Ia menciumi telapak tangan ibunya sambil bersyukur. Tak lama Lukman berpamitan, karena harus segera menjalankan tugas dan menemui kedua orang tua Aisyah.

“Pergilah, Nak, Ambu meridhoimu. Semoga Allah memudahkan langkah-langkahmu.” Bu Sastro memandang Lukman dari kejauhan dengan rasa bahagia dan lega.  Ia tidak menyesal membatalkan perjodohan Lukman dan Arini.

Satu minggu kemudian akad nikah dilangsungkan. Pernikahan pun berlangsung hidmat. Lukman dan Aisyah tersenyum bahagia, meski dalam pernikahan yang sederhana. Namun Arini, jauh di pulau Batam berteriak histeris ketika mengetahui kabar pernikahan Lukman. Ia berteriak sekeras-kerasnya menatap tepian lautan dari sebuah cotage.

Honey, what wrong with you?” Ujar seorang lelaki bule sambil memeluk Arini dari belakang. Laki-laki bule yang tak lain adalah kekasihnya. Arini tergugu di pelukan laki-laki itu, meratapi cinta pertama yang kandas.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *