•  
  •  
  •  
  •   
  •  
  •  

Oleh, Ridya Nurul Ridha

Awal tahun ajaran baru menjadi ladang emas untuk Pak Kurdi. Mahasiswa dan mahasiswi baru akan mencari tempat kos. Deretan pintu kamar kos kepunyaannya di Jalan Sersan Bajuri menjadi tempat favorit. Lokasinya yang cukup dekat dengan UPI dan fasilitas yang disediakan menjadi daya tarik tersendiri. Kamar-kamar berukuran 3×4 meter dilengkapi kamar mandi dalam, seperangkat tempat tidur beserta kasur empuknya, meja dan tentu saja lemari. Para penghuni tidak perlu repot-repot membawa  mebel. Cukup membawa baju dan perlengkapan makan saja. Yang tidak kalah menarik adalah tersedianya jaringan internet Indihome. Di zaman milenial ini, internet menjadi kebutuhan yang mutlak, apalagi bagi para mahasiswa. Di samping itu, tersedia juga dapur dengan kompor gas dan tabungnya. Walau warung makan tersedia di mana-mana dengan harga terjangkau tapi jika sesekali mau memasak, bisa ke dapur. Memasak makanan yang biasa disantap para mahasiswa yaitu mie instan. Kalau pun memasak, paling membuat telur ceplok atau dadar.

Awal semester ganjil ini, tinggal tujuh kamar yang kosong. Ditinggalkan para mahasiswa yang sudah lulus.

===============

“Hai, kenalkan. Namaku Indira.” Indira menjabat tangan seorang gadis manis yang dijumpainya di kampus.

“Hai, aku Faren. Aku baru masuk di Jurusan Matematika. Aku dari Bekasi.”

“Kamu sudah punya tempat kos?”

“Belum, masih mencari.”

“Kebetulan, teman kosku sudah lulus. Mau kos bersamaku?” tanya Indira.

“Boleh. Kapan aku bisa ke kamarmu?”

“Jam empat, oke?”

“Asyiaap. Aku tunggu di depan Isola ya.”

“Asyik. Nanti biaya kos kita

bagi dua. Tiga juta, belum termasuk biaya listrik yang ditanggung bersama oleh seluruh penghuni. Kamarku nomer enam.”

===============

Acara Sergap di RCTI menayangkan kasus pembunuhan seorang wanita muda. Korban ditemukan tanpa busana, dengan patok kayu yang tertancap di vaginanya. Di dekat korban tertulis angka 1 dengan darah korban.

Kasus itu begitu menghebohkan. Polisi berusaha mengungkapkan motif dan modus operandi pelaku. Belakangan diketahui nama korban adalah Anggi, mahasiswi NHI. Berdasarkan hasil visum et repertum, korban tidak diperkosa. Angka satu yang dituliskan oleh pelaku bagaikan pesan untuk kepolisian. Ternyata Anggi kos di bilangan Panorama, Setiabudi.

Selang satu minggu kemudian, saat kasus pembunuhan Anggi belum terungkap, terjadi pembunuhan lagi. Modus operandinya sama, korban ditusuk dengan patok kayu di vaginanya. Di samping korban ada tulisan angka dua dengan darah korban.

==============

Minggu ke lima, sudah ada lima korban. Semuanya perempuan. Modusnya sama. Polisi mulai membaca pola Sang Pembunuh Berantai. Dia membunuh mahasiswi setiap Kamis malam dengan meninggalkan pesan angka sebagai urutan korban.

Anggi, Brigitta, Cinta, Diana, Elvi. Dari penelurusan, angka sandi juga merujuk pada kamar kos atau nomer rumah kontrakan korban.

“Minggu ke enam, kita telusuri mahasiswi dari inisial F yang menghuni kamar nomer enam.” AKBP Satria memberi petunjuk pada jajarannya.

“Ada ratusan bahkan ribuan mahasiswi di Bandung,” ungkap AKP Yanto.

“Ada ribuan kamar kos juga,” tambah AKP Bambang.

===============

Berkali-kali Indira menelepon Faren tapi tidak pernah diangkat. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Kamis malam dalam hujan deras.

===============

Pembunuhan berantai yang sadis telah meneror mahasiswi Bandung. Jajaran universitas dan yang setingkat meniadakan kuliah sore agar para mahasiswi bisa pulang sebelum Magrib.

Minggu ke dua puluh empat, sudah ada dua puluh empat korban. Anggi, Brigitta, Cinta, Diana, Elvi, Faren, Gita, Hasri, Intan, Jenita, Kulsum, Lisna, Marni, Ninda, Ovie, Putri, Qirani, Ratu, Sinta, Tami, Uning, Vira, Winda dan Xanti.

Di dekat tubuh Xanti, pelaku tanpa sengaja menjatuhkan bukti penarikan ATM. Dari nomer rekeningnya, polisi melacak pemiliknya.

===============

“Kamu hebat sudah membuat kami kelabakan. Tapi kamu ceroboh menjatuhkan kertas dari ATM.”

kata AKBP Satria pada seorang pemuda yang tampak linglung.

“Aku tidak melakukannya. Tidak satu pun yang kubunuh.” kata Jaed, sang terduga pelaku.

“Namamu Hendra, kenapa dipanggil Jaed?”

“Teman-temanku memanggil begitu. Jaed, Jawa Edan.”

“Tepat, kamu edan. Pembunuh berdarah dingin. Tidak usah mengelak. Di rumah kontrakanmu banyak barang bukti. Foto-foto para korban, lengkap.”

“Aku sudah tiga minggu tidak pulang ke kontrakanku. Aku pergi ke Bogor, ibuku sakit.”

“Sudah, nanti saja kamu jelaskan di pengadilan”

===============

Laptop di ruang kerja AKBP Satria berkedip. Pertanda ada pesan masuk.

“Akan kulengkapi mahasiswamu yang ke dua puluh lima. Besok, komandan tak akan bisa mandi.”

Satria terhenyak. Bukankah pelakunya sudah ditangkap?  Segeralah diadakan rapat komando dadakan.

“Rekan semua yang terhormat. Sepertinya kita telah salah tangkap. Pembunuh ini sangat licin. Baginya sudah membunuh dua puluh empat mahasiswi belum tuntas. Dia akan menambah yang ke dua puluh lima Kamis besok dan menggenapkan yang ke dua puluh enam Kamis minggu depan. Sesuai urutan alfabet dan kamar kos atau rumah kontrakan korban. Kita harus mengadakan koordinasi dengan berbagai fihak. Besok pagi kita berkumpul di markas, jam tujuh pagi. Sebelum terlambat.”

Jaed sudah dijebloskan ke tahanan Polsek tapi nyatanya Sang Pembunuh Berantai masih berkeliaran. Mungkin dia sedang mengintai di balik jendela atau mengendap-endap di dapur tempat kos atau kontrakan para mahasiswi. Teror berkepanjangan ini benar-benar seperti horor yang sangat mengerikan. Pembunuh ini sengaja menjadikan Jaed sebagai terduga pelaku. Dari pengakuan Jaed, sebelum berangkat ke Bogor, dia mengambil uang di ATM di sekitar Leuwi Panjang. Bukti penarikannya dia buang.

Sang Pelaku jelas orang yang sangat pintar. Entah bagaimana caranya, dia bisa mengetahui jati diri dan alamat Jaed. Mungkin saja dia memilih sasaran secara acak tapi sudah mengintai Jaed sebelumnya.

===============

Alarm gawai Satria berbunyi. Pukul empat pagi. Dia segera beringsut dari ranjangnya. Istrinya masih lelap. Satria sudah biasa bangun lebih dahulu bahkan kadangkala meninggalkan istrinya yang masih tidur jika ada panggilan tugas.

Satria menuju kamar mandi, hendak berwudhu. Dibukanya keran namun air tidak mengalir. Setelah menutup keran, dia memeriksa pompa, baik-baik saja. Dibukanya lagi keran. Perlahan mulai menetes, merah!

===============

Suara sirine tiga buah mobil polisi meraung-raung di sekitar rumah Satria. Selain itu ada mobil pemadam kebakaran. Para polisi dan petugas Damkar  bahu membahu membongkar bak penampungan air PAM di depan rumah Satria. Setelah terbuka, tersuguhlah pemandangan yang begitu mengerikan. Air tak lagi jernih tapi merah kental. Sesosok mayat wanita dengan kondisi seperti dua puluh empat korban lainnya. Tambahannya, leher wanita ini dikalungi kantong plastik berisi surat.

“Polisiku tersayang …

Mahasiswi ke dua puluh lima ini bernama Yasmin. Tinggal di rumah nomer dua puluh lima. Tinggal selangkah lagi tugasku selesai. Akan kugenapkan mahasiswimu yang ke dua puluh enam.  Aku benci wanita. Ibuku menghianati Ayahku ketika aku kecil. Ayah depresi lalu bunuh diri. Aku tinggal dengan Kakek. Nenekku setia sampai meninggal. Kalian tak akan bisa menemukanku. Aku tinggal jauh dari Bandung. Aku hanya datang untuk menjemput mahasiswimu setiap Kamis malam. Tapi mahasiswi terakhirmu akan kujemput kapan saja agar kalian lengah. Kuciptakan peran penggantiku lewat kertas ATM yang dia buang. Kufoto dia lalu aku cari jati dirinya di Facebook. Kusimpan semua buktiku di rumahnya. Permainanku cantik bukan? Secantik para mahasiswimu.”

Semua tercenung.

Tangan sadis berjiwa keji masih ada di luar sana, psikopat! Mengincar mahasiswi berinisial Z yang tinggal di kamar kos atau rumah nomer dua puluh enam. Siapakah dia?

Hati-hati, tutup rapat-rapat pintu rumah. Jangan sampai dia menjemputmu. Kamu, ya, kamu!

===============

Minggu ke dua puluh enam. Jajaran kepolisian Bandung sudah berdebar-debar.

Namun demikian, tidak ada kejadian apa-apa. Minggu ke dua puluh tujuh dan dua puluh delapan pun aman. Begitu pula minggu ke dua puluh sembilan.

Jaed sudah dibebaskan tapi rupanya dialah yang menjadi saksi kunci. Dia mendapat perlindungan polisi, khawatir dia dicelakai oleh pembunuh sebenarnya yang masih berkeliaran, entah di mana.

Polisi berusaha mengurai bagaimana caranya Sang Psikopat bisa mengetahui rumah Jaed.

“Coba ingat-ingat, setelah membuang bukti penarikan ATM di dekat Leuwi Panjang, apakah ada yang mengikutimu?” tanya AKBP Satria.

“Seingatku tidak ada. Perhatianku tercurah pada rencana ke Bogor untuk menjenguk ibuku yang sedang sakit.”

“Ada yang mengajak berbicara?”

“Aku langsung naik Primajasa. Ingin segera sampai ke Bogor.”

“Di perjalanan, terlibat pembicaraan dengan teman sebangku?”

“Waktu itu penumpang di sampingku adalah seorang ibu paruh baya. Kami tidak banyak berbicara.”

“Kamu aktif di Facebook? Sang Pembunuh mengatakan mencari jati dirimu lewat FB. Tanpa sepengetahuanmu, dia mengambil fotomu.”

“Ya, aku aktif dan sering membuat status.”

“Apa saja statusmu setelah kamu ke Bogor?”

“Tentang ibuku di rumah sakit.”

“Kamu suka berjualan online?”

“Ya. Aku membuka lapak di ‘market place’ menawarkan kaos.”

“Kamu cantumkan alamat?”

“Tidak, tapi ada peta konveksi dan merk kaosku. Biasanya yang berminat akan meminta nomer WA.”

“Apakah ada yang bertanya tentang kaosmu, ada yang memesan?”

“Ada beberapa tapi karena aku sedang di Bogor jadi pesanan ditangani oleh temanku, Rafli.”

“Masih adakah catatan pemesanan itu di gawaimu?”

“Ada.”

Jaed membuka gawainya dan memeriksa beberapa obrolan di Messenger. Semuanya ada sebelas buah. Yang jadi memesan hanya delapan. Tiga di antaranya tidak jadi memesan tapi satu orang di antaranya terlibat pembicaraan yang agak panjang hingga berlanjut ke permintaan pertemanan di Facebook.

Dia, seseorang dengan nama akun Kitaro. Beralamat di Tasik. Foto profilenya adalah pemandangan bukit kapur.

Kepada semua calon pembeli, Jaed selalu melayani obrolan seputar pemesanan kaosnya. Jika ada yang meminta alamat, tentu saja tidak curiga. Akun Jaed sendiri menggunakan foto dirinya dengan keterangan tambahan yaitu merk kaosnya ‘Kutilang’ beserta foto-foto kaos dan konveksinya di Jalan Kutilang.

Dengan naluri detektif yang handal, AKBP Satria menyelidiki akun Kitaro. Seseorang yang nyata telah melakukan obrolan dengan Jaed dan telah mengetahui nama konveksinya, mudah ditemukan. Kontrakan Jaed berada di sebelah konveksinya yang dia kelola bersama dengan teman-temannya.

===============

Mengapa orang Tasik menggunakan foto profil batu kapur? Setelah diteliti, itu pegunungan kapur di daerah Cipatat. Ada juga beberapa foto kegiatan di beberapa lubang penambangan kapur.

AKBP Satria juga mengintrogasi Rafli beserta teman-temannya di konveksi Kutilang. Menyelidiki apakah ada yang mengetahui kalau ada yang menyelinap ke rumah kontrakan Jaed untuk meyimpan bukti kejahatan.

“Apakah suka ada yang memesan kaos langsung ke sini?” tanya AKP Yanto.

“Ada beberapa. Biasanya mereka memesan kaos seragam.”

“Dalam tiga minggu ini, ada berapa orang yang datang memesan?”

“Sebentar, harus dilihat di catatan.”

“Ada yang mencari Jaed?”

“Umumnya semuanya mencari Jaed karena Jaedlah yang memasang iklan.”

“Sebentar, aku ingat sekarang. Pernah ada seorang gadis yang menanyakan Jaed. Katanya dia teman sekolahnya. Karena Jaed tidak ada, dia menitipkan sebuah amplop. Aku simpan saja amplop itu di kamar Jaed tanpa membukanya.”

“Amplop ini?” tanya AKP Yanto seraya memperlihatkan sebuah amplop coklat besar.

“Ya.”

“Jaed, sekarang kita sudah menemukan titik terang pembunuhan berantai ini. Amplop ini akan membawa kita pada pembunuh yang sebenarnya.”

“Kamu tahu siapa nama gadis itu?”

“Raeni.”

“Jaed, ada teman sekolahmu yang bernama itu?”

“Seingatku tidak ada.”

“Oke, kita cari Raeni.”

“Tidak usah. Waktu itu aku sempat berkenalan, foto bersama dan meminta nomer teleponnya,” kata Rafli.

“Bisa dihubungi sekarang?”

===============

“Kamu tahu kalau kamu menjadi kaki tangan pembunuh sadis?” desak AKBP Satria pada Raeni.

“Tentu saja tidak,” sanggah Raeni.

“Kenapa Bapak menuduhku begitu?”

“Karena kamu sudah membawa dan memberikan bukti-bukti pembunuhan paling sadis di kota ini.”

Raeni terbelalak, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Dari siapa kamu mendapatkan amplop itu?”

“Dari seseorang yang kutemui di ujung jalan. Katanya dia titip amplop itu ke konveksi.”

“Masih ingat wajahnya?”

“Dia memakai helm, wajahnya agak terhalang.”

“Mengapa kamu mau disuruh, dibayar?”

“Hmmm …”

“Jawab!”

“Saat itu aku sedang bingung karena kehabisan uang. Mama belum transfer. Tetiba saja datang orang itu menawarkan uang untuk pekerjaan yang sangat mudah. Aku tidak berfikir apapun selain merasa senang.”

“Dibayar berapa?”

“Tujuh ratus ribu.”

“Jaed, buka lagi akun Kitaro. Semoga kita menemukan foto dirinya.”

Jaed membuka FB dan mencari akun Kitaro tapi tidak ditemukan. Kitaro sudah memblokir Jaed. Kecurigaan semakin meruncing.

AKBP Satria meminta AKP Yanto untuk mencari akun Kitaro di FB-nya.

Setelah ditemukan, mereka bersama-sama membukanya.

Postingannya berisi kegalauan hati dan amarah. Perlahan-lahan mereka membuka galeri foto di akunnya. Raeni diminta memperhatikan baik-baik apabila ada orang yang serupa dengan yang menyuruhnya memberikan amplop.

“Stop!” kata Raeni menunjuk sebuah foto di pegunungan kapur. Foto beberapa lelaki yang tampaknya sedang bekerja di situ. Raeni berusaha mengingat seraut wajah di balik helm dan mencarinya di foto bersama itu.

“Ini!” Raeni menunjuk seorang lelaki berkumis, berperawakan tinggi kurus dan berkulit sawo matang. Cukup tampan untuk memikat para wanita.

===============

“Ampun, jangan sakiti aku. Apa salahku?” Seorang wanita muda yang cantik merintih.

Suaranya terdengar menggema di gua kapur yang sudah lama ditinggalkan. Tubuhnya bugil dengan tangan terikat ke belakang.

Seorang lelaki tampan terlihat sedang menyerut kayu untuk dibuat patok dengan sebilah golok yang mengkilat, menandakan sangat tajam.

“Kamu tidak tahu apa salahmu?”

Gadis itu menggeleng. Badannya menggigil kedinginan.

“Karena kamu cantik dan kamu seorang mahasiswi yang tinggal di rumah kontrakan nomer dua puluh enam.”

“Kenapa begitu?”

“Wanita cantik itu jahat. Hanya menggunakan kecantikannya untuk menggoda lelaki. Walau tubuhmu kutelanjangi, tak sedikit pun aku tergoda. Aku malah jijik!” teriak lelaki itu penuh amarah dan dendam membara. Tangannya masih menyerut patok kayu hingga dirasa cukup runcing. Kayu berukuran panjang sekitar lima puluh centimeter dan berdiameter sekitar lima centimeter itu dilihatnya dengan sebelah mata terpejam, mengukur ketajamannya.

“Sekarang waktunya.” Lelaki itu menghampiri Sang Gadis yang menangis pilu.

===============

“Berjalan perlahan jangan sampai menginjak ranting dan menimbulkan bunyi.” Intruksi AKBP Satria pada jajarannya yang bersenjata lengkap. Dia sengaja turun langsung ke lapangan karena ini kasus yang sangat besar di Bandung, di Jawa Barat bahkan di negara ini. Selain AKP Yanto, ada  beberapa bawahannya yaitu Inspektur Dani, Inspektur Lutfi, Inspektur Bambang dan beberapa polisi dengan pangkat di bawahnya. Total berjumlah dua puluh orang.

“Siap, Ndan!”

Barisan itu berjalan beriringan sepanjang perbukitan kapur Cipatat di tengah malam.

Sesampainya di sebuah lubang, terdengar tangisan yang menyayat hati.

“Sssst …!” AKBP Satria menunjukkan telunjuknya ke lubang gua kapur itu.

“Kita tidak boleh menyalakan senter, akan mengejutkan monster pembunuh itu. Senyapkan semua nada dering gawai kalian!”

Dari jauh, terlihatlah pemandangan yang mengerikan. Seorang lelaki dengan tonggak kayu di tangan kanannya sedang berlutut di antara paha wanita bugil. Tangan kirinya menekan paha wanita itu sedangkan tangan kanannya siap menghunjamkan tonggak kayu ke vagina wanita malang itu.

“Angkat tangan!”

Lelaki tampan itu, Kitaro! Dia memalingkan wajahnya dengan tenang. Sama sekali tidak ada gurat kaget apalagi takut.

“Polisiku tersayang, mengapa mengganggu tugasku? Padahal ini tugas terakhir. Setelah ini kalian akan tenang.”

“Buang kayu itu!”

Wajah dingin Kitaro tersenyum sinis.

“Kalian mau melihat puncak pertunjukanku sekarang?”

Kitaro siap menghunjamkan patok kayu itu sesaat sebelum Inspektur Dani melumpuhkannya dari belakang tubuhnya. Sempat terjadi  pergumulan di bawah todongan senjata aparat hingga patok kayu itu terlepas. Kedua tangan Kitaro ditarik ke belakang. Namun Kitaro tidak mau menyerah. Dia menginjak kaki Inspektur Dani, berbalik lalu menendang selangkangannya hingga terpental dan meraung kesakitan.

Dalam hitungan detik, Kitaro merampas pistol Inspektur Dani lalu menodongkankannya pada barisan polisi.

Sebagai seorang perwira, sikap AKBP Satria begitu tenang.

“Kitaro, kamu memegang satu pistol dengan enam peluru. Di sini ada sembilan belas pistol lain dengan peluru penuh dan laras terkokang mengarah padamu. Kamu tidak akan menang melawan kami. Kalau kamu menembakkan enam peluru itu pada enam orang dari kami, masih ada empat belas pistol lagi yang bisa melumpuhkanmu.”

“Kamu fikir aku akan menyerah? Tidaaaaak! Aku sedang menyelesaikan tugasku?”

Di luar dugaan, Kitaro mengarahkan pistol ke kepalanya sendiri.

“Daripada menyerah, akan kuselesaikan kisah ini dengan terhormat”

Pistol pun meletus membuncahkan darah dari kepala Kitaro ke segala arah, tersungkur. Di balik genangan darah, bibirnya tersenyum. Senyum kemenangan.

===============

Hari ini Selasa, tanggal dua puluh enam bulan Juli. Sesuai janjinya, Kitaro akan menggenapkan korbannya tidak pada hari Kamis malam untuk membuat polisi lalai. Beberapa minggu bertapa untuk membuat polisi lengah. Di hari ini, Kitaro benar-benar menggenapkan korban ke dua puluh enam.

Beruntung kamu selamat, Tira. Zettira! Polisi segera menutup badan Tira dan membawanya ke rumah sakit.

“Tenangkan dirimu. Kami akan merawatmu, memberimu ‘trauma healing’

===============

Kitaro, pergilah menghadap Tuhanmu dengan perkasa untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu. Agama melarang menghilangkan nyawa orang lain, bahkan nyawamu sendiri, Zulfikar! Orang Tasik Jalan Pahlawan nomer dua puluh enam.

===============

Bagaimana Kitaro alias Zulfikar menemukan dan menentukan korban-korbannya?

===============

Tira, Zettira Almeera Khumaira berteriak dan meronta-ronta. Terbangun dari tidurnya yang gelisah di ruang perawatan Delima RS Avisena.

“Tenang ya,” kata Razak, perawat di ruangan itu.

“Kamu jahat, kamu kejam, kamu sadis!” teriak Tira sambil menunjuk Razak. Matanya melotot dan menatap Razak dengan nanar. Razak mengerti, pasiennya ini mengalami trauma yang hebat pasca percobaan pembunuhan oleh monster psikopat, Zulfikar.

“Kamu ke luar dulu ya. Panggil perawat wanita untuk menemani saya,” pinta dokter Ana. Psikiater di RS tersebut.

“Tira, bagaimana kabarmu hari ini, sudah mau makan?” tanya dokter Ana dengan senyum manis.

“Dok, aku takut.” Tira menatap dokter Ana dan mulai menangis. Dokter Ana meraih tangan Tira, menggenggam dan mengusapnya dengan lembut.

“Tarik napas, tahan lalu hembuskan!” istruksi dokter Ana.

“Aku sering bermimpi tentang peristiwa itu, dok. Rasanya seperti nyata.

“Saya mengerti tentang ketakutanmu. Jangan khawatir, dia sudah tidak akan menyakitimu lagi.”

“Tapi dia masih menungguku. Dia sudah lama menungguku.”

“Menunggu di mana? Sudah kenal sebelumnya?”

“Aku sudah lama kenal dengan dia, dok.”

“Kenal di mana?”

“Lewat Facebook.”

“Sudah pernah bertemu sebelumnya?”

“Ya, beberapa kali.”

“Di mana?”

“Di kotaku, Sukabumi.

“Apa saja yang kamu lakukan bersamanya?”

“Mengobrol, jalan-jalan, jajan. Itu saja.”

“Kapan pertama bertemu dengannya?”

“Sekitar dua tahun yang lalu, saat aku masih SMA.”

“Teman sekolah?”

“Bukan, hanya teman FB.”

===============

“Awasi terus Tira,” perintah AKBP Satria pada jajarannya.

“Untuk apa, Ndan?” tanya inspektur Lutfi.

“Bukankah pelaku sudah ditemukan, Zulfikar?”

“Kasus ini belum selesai. Ada satu korban yang selamat. Selain dendam pada ibunya, kita harus menemukan motif lain. Kita harus menemukan bukti, bagaimana Zulfikar memilih dan memilah korbannya?”

“Paling tidak, kita menemukan jawaban yang bisa kita berikan pada keluarga korban,” tambah AKP Yanto.

“Ya. Kita juga harus mengabarkan pada keluarga Zulfikar,” kata AKBP Satria.

“Inspektur Lutfi dan Inspektur Dani, besok ke rumah Zulfikar di Tasik sesuai dengan alamat di KTP. Antarkan jenazah pada keluarganya. Besok ditemani sopir dan beberapa personil.”

===============

Wajah sendu Pak Rahmat tertunduk lesu. Wajah tuanya menyiratkan lelah dan guncangan yang luar biasa. Sungguh tak menduga kalau cucu semata wayangnya telah menjelma menjadi monster pembunuh dua puluh lima nyawa mahasiswi. Lebih tak menduga kalau akhirnya cucunya itu mengakhiri nyawanya sendiri.

Awalnya pemakaman hanya dihadiri para polisi dan aparat desa saja. Tak ada warga yang mau mengantar. Namun demikian, banyaknya awak televisi yang meliput prosesi pemakaman itu membuat warga tumpah ruah. Mereka bukan mengantar tapi menonton.

Zulfikar, cucu yang dia besarkan seorang diri ternyata memilih jalan yang sama seperti ayahnya. Hingga kini, ibunya tak tahu rimbanya sejak meninggalkan Zulfikar kecil.

“Maaf Pak, boleh kami memeriksa kamar Zulfikar?” tanya Inspektur Dani.

“Silahkan,” jawab Pak Rahmat parau seraya menunjukkan kamar almarhum cucunya. Pak Rahmat pun beringsut mengikuti.

Kamar kecil yang sudah ditinggalkan penghuninya itu serasa memunculkan aura magis. Pintunya berderit saat dibuka. Catnya mengelupas di sana sini. Begitu pun dengan cat dinding kamar yang menandakan kesederhanaan hidup Zulfikar bersama kakeknya.

Di pojok ruangan ada sebuah ranjang kecil dengan kasur tipis yang sudah lepek. Di sebelah kirinya ada lemari plastik yang sudah sobek, sementara di sebelah kanannya ada meja kecil yang sudah reot.

“Dulu Zulfikar sekolah di mana, Kek?” tanya Inspektur Lutfi.

“Hanya sampai kelas satu SMA. Saya tidak bisa membiayainya. Sepeninggal neneknya, kehidupan kami semakin sulit.”

“Lantas, apa kegiatan Zulfikar sehari-hari?”

“Dia lebih sering mengurung diri.”

“Bekerja?”

“Ya, beberapa kali berpindah tempat pekerjaan. Pernah bekerja di dekat sini di pabrik bata, hanya sebentar. Bekerja sebagai buruh di pasar juga pernah. Lalu menjadi pedagang asongan. Hanya sebentar-sebentar saja. Sebetulnya saya kasihan karena cucu saya tidak tamat sekolah sehingga tidak bisa mendapat pekerjaan yang layak. Terakhir bekerja di pabrik kapur di Cipatat,” papar Pak Rahmat panjang lebar.

Berbekal gawai yang ditemukan di saku celana Zulfikar sesaat setelah dia mengakhiri hidupnya dengan tragis, polisi berusaha mengungkapkan motif lain selain dendam. Polisi berusaha mengungkap bagaimana Zulfikar memilih korbannya dengan apik dan runut berdasarkan inisial korban. Terlebih jika dihubungkan dengan nomer kamar atau rumah kontrakan korban yang sesuai dengan urutan alfabet inisialnya.

Di laci meja, Inspektur Dani menemukan sebuah buku yang berisi rintihan jiwa Zulfikar. Bisa dianggap buku diari. Di situ juga Zulfikar menuliskan nama-nama korban yang sudah dia susun beberapa tahun sebelumnya. Korban-korban yang dia temukan dari laman Facebook.

Dari foto-foto korban yang ditemukan dalam amplop di kamar Jaed, semua korbannya memang berteman dengan Zulfikar di Facebook. Mereka, para mahasiswi itu kemudian digiring dalam obrolan di WA.

Berdasarkan obrolan dengan Tira, calon korban ke dua puluh enam yang selamat, Zulfikar menebarkan pesona padanya. Bermula berkenalan lewat FB, mengirim pesan lewat Messenger untuk meminta nomer WA lalu beralih ke WA. Dengan wajahnya yang tampan, Zulfikar mudah saja memesona para wanita calon korbannya. Mengajaknya bertemu  dan membuat para wanita bertekuk lutut.

Zulfikarlah yang mengantar Tira mencari kontrakan tahun lalu selepas SMA dan akan mulai kuliah. Rumah kontrakan nomer dua puluh enam di bilangan Ciumbuleuit.

Dalam buku harian itu ditulis, bagaimana Zulfikar menuntun para calon korbannya untuk memilih nomer kamar atau nomer rumah yang sesuai dengan urutan abjad inisial masing-masing. Katanya semata-mata biar keren saja padahal Zulfikar sedang meyusun skenario pembunuhan berantai yang terbilang paling sadis di abad ini. Di bagian akhir buku, tertulis: “Aku akan terkenal. Semua mengenal dan mencatatku dalam sejarah. Tak ada lagi keacuhan seperti yang kuterima selama ini …”

Cara yang dipakai pada Tira, begitu juga yang dilakukan pada Anggi, Brigitta, Cinta, Diana, Elvi, Faren, Gita, Hasri, Intan, Jenita, Kulsum, Lisna, Marni, Ninda, Ovie, Putri, Qirani, Ratu, Sinta, Tami, Uning, Vira, Winda, Xanti dan Yasmin. Para korban itu diajak berteman di FB, diinbox lewat Messenger, berlanjut ke WA, bertemu dan dibuat terpesona pada ketampanannya, dibujuk rayu hingga mau saja percaya kalau nomer kamar atau rumahnya sesuai dengan urutan abjad inisial nama adalah hal yang sangat keren.

Zulfikar menyusun semuanya dengan rapi dan sistematis. Walau tidak tamat SMA tapi dia begitu cerdas.

===============

“Catat semua alamat korban. Belum semua keluarga mengetahui kalau anaknya menjadi korban sadisme Zulfikar. Kita tidak memberitakan semua nama korban agar masyarakat tidak resah dengan kejadian ini,” papar AKBP Satria pada jajarannya.

“Siap Ndan, laksanakan!”

===============

Siang itu keluarga korban pembunuhan berantai Kitaro alias Zulfikar dari berbagai kota berkumpul di Polda Jawa Barat sesaat setelah pemindahan pemakaman anak gadis mereka ke salah satu sudut Pemakaman Cikutra secara berdampingan. Mereka menangis bersama dan saling menguatkan. Berterima kasih pada pihak kepolisian yang telah mengungkap misteri pembunuhan berantai yang terjadi selama lima puluh minggu, setahun lebih. Berharap agar sejarah kelam itu tidak terulang. Kasus ini patut dicatat sebagai ‘extra ordinary crime’

Di dekat deretan jenazah itu dibuat tugu kecil bertuliskan nama lengkap para korban dan memorium:

‘Bidadari-bidadari yang cantik, beristirahatlah dengan tenang di haribaan Rabbmu. Bersama cinta dan segenap doa kami semua’

Siang beranjak senja. Matahari pun murung tak lagi tersenyum dan akhirnya awan-awan pun menangis pilu. Di balik rinai hujan, keluarga para korban menangis bersama rintik.

Wahai kaum wanita, janganlah mudah terpedaya oleh ketampanan pria. Hati-hati memberikan nomer telepon pada pria yang baru dikenal apalagi jika meminta bertemu. Siapa tahu, di balik pesonanya, ada niat jahat terselubung.

Tamat.

Ini murni kisah fiksi rekaanku.

Mohon maaf jika ada kesamaan nama, alamat dan tempat. Terima kasih.

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

2 Replies to “Dua Puluh Enam”

  1. Terima kasih yang tak terkira untuk WrC-ku tersayang yang telah membersamaiku menuntut ilmu dan memperluas wawasan serta menambah sahabat.

    Semoga silaturahmi ini senantiasa terjalin dalam ridha Allah SWT.

    Aamiin YRA 🤲

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *