Oleh, Sofia Erni

Alhamdulillah, setelah sekian lama mencoba akhirnya Harum diterima bekerja di perusahaan BUMN di kota tempat dia tinggal. Pagi ini Harum sangat bersemangat karena pagi ini, hari pertama Harum masuk kerja. Sesampainya di Kantor Harum di perkenalkan dengan staff kantor bagian keuangan, karena di bagian itulah Harum di tempatkan. Pak Hasan memperkenalkan Harum ke bagian yang lainnya juga.

“Assalamualaikum, punten ganggu. Perkenalkan ini staff  baru Kita, ayo neng perkenalkan diri,” instruksi Hasan ke Harum.

“Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Harum Kartika Sari, biasa dipanggil Harum, usia 23 tahun,” ujar Harum

“Tinggal dimana neng, udah punya suami belum?” celetuk salah satu dari mereka.

” Belum.”

“Udah cukup ya tanya-tanyanya, ayo neng kita kembali ke ruangan!“ ajak Hasan.

” Baik Pak.”

Hari-hari begitu cepat berlalu, Harum menikmati pekerjaan barunya. Kerjasamanya dengan teman kerja juga tidak ada kendala, begitu juga dengan Hasan. Harum dapat menyelesaikan tugas yang di beri Hasan dengan baik. Harum dan Hasan sesekali terlihat mengobrol lama, ngobrol apa aja dari tentang pekerjaan dan juga berita terupdate di negara.

Hasan adalah pria sudah menikah, dengan dua anak, yang besar seorang putri dan yang kedua seorang putra. Namun Hasan harus merawat istrinya yang divonis gagal ginjal dan sudah harus cuci darah seminggu dua kali. Karena fokus untuk merawat istri, Hasan tidak perduli dengan dirinya. Tubuh yang kurus, rambut hitam belah tengah, dan selalu memakai kemeja berulang. Karena wajahnya yang tirus sehingga giginya yang besar-besar terlihat menonjol keluar.

Dalam perbincangan Harum dan Hasan juga terselip menceritakan tentang Hasan yang harus izin untuk mengantar istrinya ke Rumah Sakit untuk cuci darah. Dalam merawat istrinya, Hasan harus izin lebih sering dari kantor, sedangkan posisinya sebagai Supervisor Keuangan menuntutnya harus fokus. Tapi apalah daya istrinya lebih membutuhkannya.

Hasan selalu galau, di satu sisi tidak enak sama Manajer yang sudah memberi warning agar tidak sering izin, di sisi lain keluarga juga membutuhkannya di rumah. Alhamdulilah anak-anaknya dirawat oleh Mbah Larsih. Bu Larsih dengan ikhlas merawat cucu dan anaknya yang lagi sakit.

Dan dengan kegalauannya Hasan memutuskan untuk resign. Karena merasa tidak enak dengan perusahaan. Dan juga Dia telah bertekad memulai usahanya sendiri. Agar bisa leluasa merawat istrinya.

Tanpa terasa sembilan bulan berlalu, sudah mau lebaran saja, Harum dan keluarganya memutuskan mudik ke kampung halaman Papanya. Harum sangat menikmati liburan lebaran di Ranah Minang. Udara yang sangat dingin, pemandangan belakang Rumah nenek yang hijau hamparan sawah, dan Gunung yang menjulang tinggi. Siang ini, Harum terbangun karena gawainya berbunyi, ada pesan yang masuk.

“Assalamualaikum, Rum sudah dapat kabar belum, istrinya Pak Hasan meninggal.”

“Innalillahi wa innalillahi rojiun, kapan Mit?”

” Tadi jam 11.”

Harum mendapat kabar dari sahabatnya Mita, sahabat semasa kuliah hingga satu perusahaan namun beda bagian. Dan Mita juga yang merekomendasikan Harum bekerja. Karena memang kehilangan kontak dengan Hasan, Harum tak bisa mengucapkan berbelasungkawa. Dan Harum lanjut menikmati berkumpul dengan saudara-saudaranya di Kampung.

Hari, Bulan dan tahun cepat berganti, tanpa terasa dua tahun berlalu begitu saja. Masih dengan rutinitas Harum yang sama. Bekerja setiap hari dan weekend berkumpul dengan teman juga keluarga.

Mengalihkan kebosanan, kadang Harum berselancar di sosial media, Dia menjadi aktif di sosial media. Sampai beberapa foto yang di upload di like dan di comment Hasan. Komunikasi antara mereka terjalin lagi. Hasan yang lebih aktif mengechat Harum. Sementara Harum tidak terlalu merespon.

“Assalamualaikum, Mba Rum ada tamu,” ucap Pak Security

“Waalaikumsalam, siapa Pak?” jawab Harum

“Laki-laki, katanya temannya Mba?”

“Silahkan masuk aja Pak.”

Pria tersebut bergegas menuju ruangan Harum, dan mengetuk pintu ruangan bagian keuangan.

“Assalamualaikum, selamat sore Mba Rum,” ucap Pria tersebut.

“Waalaikumsalam, selamat sore juga.”

“Heemmmm ya Allah Pak Hasan, apa kabar? Saya kira siapa,” ujar Harum kaget dengan tamunya.

“Alhamdulillah baik, seperti yang kamu lihat.”

Harum hampir tidak mengenali Hasan, karena penampilannya jauh berbeda dari dua tahun yang lalu. Hasan sekarang terlihat lebih segar, badannya berotot, rambut cepak ala militer, stylenya eksekutif muda.

Cukup lama mereka berbincang, diawali dengan Harum yang mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya istri Hasan, sampai perjalanan usaha Hasan yang penuh liku hingga meraih kesuksessan saat ini. Dua tahun begitu berliku untuk Hasan. Lain halnya dengan Harum yang menjalani hari-hari biasa aja.

Waktu pulang kerja sudah tiba, Hasan menawarkan mengantar pulang, namun Harum menolak dengan tegas. Dan Hasan pun tidak mau memaksa Harum. Sehingga Hasan pamit pulang. Harum mengantar Hasan sampai ke depan, dan melihat Hasan berlalu dengan mobil sedan biru nya.

Komunikasi mereka berlanjut melalui gawai, Hasan lebih aktif memulai komunikasi, karena rasa sungkan dengan mantan atasan, Harum membalas seadanya dan sebenarnya males meladeni Hasan, karena statusnya yang duda. Dan Harum mengetahui niat Hasan padanya.

Namun Hasan pantang menyerah, dia meminta pin bbm Harum pada teman kerja Harum. Dari situlah Hasan memulai komunikasi bbm dengan Harum, yang biasanya selama ini hanya melalui chat di facebook. Harum sangat kaget menerima bbm dari Hasan, tau darimana? Fikir Harum. Dan Harum lagi-lagi karena merasa sungkan jadi merespon Hasan.

Perjuangan Hasan, mendapatkan hati Harum tidak mudah, mungkin karena latar belakang Hasan, membuat Harum tidak meresponnya. Ketika sedang searah ke kantor Harum ataupun tidak, Hasan menyempatkan datang, baik siang ataupun sore hari.

Dan pada akhirnya, karena sungkan selalu menolak diajak pulang bersama, dan juga atas rayuan dari temen-teman kerja, Harum menerima ajakan pulang bersama. Dan Hasan pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Mba Harum kita makan sore dulu yuk!” Pinta Hasan.

“Maaf Pak saya sedang shaum,” ujar Harum.

“Oh ya kebetulan sekali, bentar lagi magrib, sekalian kamu buka puasa.”

“Tidak usah Pak, terimakasih, saya mau cepat pulang.”

“Ayolah kamu mau menghilangkan pahala saya, dengan memberi makan orang yang sedang berpuasa.”

Mendengar jawaban Hasan, Harum tidak bisa menolak untuk ditraktir makan malam. Hasan mengambil kesempatan ini, bertanya lebih banyak tentang Harum sampai nomor ponselnya di dapat Hasan. Setelah selesai makan malam, mereka mampir ke Mesjid terdekat lalu pulang mengantarkan Harum sampai rumahnya.

Karena sudah malam, Hasan mengantarkan Harum sampai kepintu rumahnya, dan disambut oleh Pak Andi Papanya Harum. Hasan berbincang dengan Pak Andi sebentar.

‘Maaf Pak, Harum pulangnya telat, tadi saya ajak buka puasa dulu,” ucap Hasan.

“Oooh tidak apa-apa nak, terima kasih sudah mengantar Harum,” jawab Pak Andi.

Kemudian Hasan langsung pamit, karena tidak enak sudah larut malam.

Waktu terus berganti, perjuangan mendekati Harum masih sama, tidak ada respon yang menyenangkan, Harum masih saja menjaga jarak dengan Hasan. Namun Hasan sepertinya yakin dengan hatinya. Dia melihat sosok Harum yang sabar, lembut dan keibuan. Cocok menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.

Hasan berfikir keras, dalam kesendiriannya dirumah yang lumayan luas, anak-anaknya di asuh oleh mbah Larsih. Hasan merasakan sepi dirumah yang jadi tambah besar, karena kesendiriannya.

Hasan berencana meminta Harum untuk mengajarkan anak-anaknya mengaji, karena Hasan tahu kelemahan Harum, tidak akan menolak untuk berbuat kebaikan. Dan benar saja, Harum tidak bisa menolak permintaan Hasan.

Dimulailah, setiap pulang kerja Hasan menjemput Harum untuk diantar ke rumah Mbah Larsih bertemu dengan anak-anaknya. Tiba dirumah Mbah Larsih Hasan memeperkenalkan Harum dengan mantan mertuanya. Namun respon tak terduga dari Caca anak sulung Hasan, dia lari kebelakang sambil menangis, karena tidak mau berkenalan. Sedangkan Rizky anak bungsu Hasan senang berkenalan dengan Harum.

Mulailah Harum mengajar Rizky saja mengaji, karena Caca menolak untuk bertemu Harum. Dalam benak Caca, ayahnya membawa perempuan yang akan menggantikan mamanya. Rutinitas Harum mengajar ngaji anak-anak Hasan terus berjalan, sampai Caca melihat kelembutan Harum, dan Dia mau mulai mengaji dengan Harum, tapi dengan syarat dibelikan netbook

Saat mengantar pulang Harum, Hasan memberanikan diri menyatakan maksudnya, didalam mobil, dengan alunan musik ST12 saat itu lagi hits. Dan temaram lampu mobil yang tidak terlalu terang.

“Harum, Aku suka padamu, karena ilmumu, karena agamamu dan karena hatimu yang ikhlas, mau kah kamu membimbing anak-anakku selamanya, Aku memerlukanmu sebagai pendampingku, aku menyukai semua yang ada didirimu,”. ucap Hasan dengam wajah serius.

“Pak, jika mengiginkan saya, pintalah pada Papa Saya, jika beliau menerima, InsyaAllah saya sependapat dengan beliau,” jawab Harum sambil tertunduk malu.

Malam itu, Hasan di tantang untuk berbicara dengan Pak Andi, Hasan sedikit takut, tapi keinginannya yang kuat, memaksanya harus bertindak. Harum berfikir Hasan tidak akan berani langsung berbicara dengan Papanya.

Namun fikiran Harum salah, setelah duduk dikursi tamu, papa Harum keluar kamar lalu duduk didepan Hasan. Dengan lancar Hasan mengutarakan maksudnya dan disambut baik oleh Pak Andi.

“Begini Mas, kalau saya sih terserah Harumnya saja, karena Dia yang akan bertanggung jawab dengan keputusannya.” Ucap Pak Andi sambil melirik kearah Harum.

“Bagaimana Mah, kamu menerima maksudnya Mas Hasan?” Pak Andi bertanya ke Bu Tini, Mamanya Harum.

“Mama mah terserah anaknya saja,” jawab Bu Tini dan lagi melirik Harum.

“Jika Papa dan Mama menerima dan merestui, Harum menerima Pa..Ma,” jawab Harum seraya tertunduk malu.

Hasan juga meminta izin dengan Bu Sukaesih, selaku Mbu dari Hasan. Bu Sukaesih sangat mendukung keputusan Hasan yang hendak menikahi Harum

Rencana pernikahan di bicarakan kedua belah pihak, walaupun ada kendala dari Caca putri Hasan yang belum sepenuhnya menerima Harum, namun hal itu tidak menjadi masalah pada saat itu.

Hari pernikahan tiba, acara sakral membuat Hasan grogi juga walaupun ini untuk yang kedua kalinya bagi Hasan. Sementara Harum sangat cantik dengan gaun putihnya masih diruangan menunggu ijab qobul di mulai.

Ketika Hasan melafazkan ijab qobul dengan satu tarikan nafas, seluruh hadirin riuh menyatakan sah…sah..sah. Harum diruangannya ditemani Mita sahabatnya berdoa dan spontan berpelukan sambil menangis haru keduanya.

Sementara diluar tempat ijab qobul. Caca meneteskan air mata sampai sesegukan, tiada yang tahu arti dari airmata Caca. Mbu Sukaesih dan Mbah Larsih terus menenangkan Caca.

Enam bulan setelah menikah, mulai muncul masalah demi masalah di rumah tangga Hasan dan Harum. Dari permasalahn beda karakter yang mulai terlihat jelas, Hasan yang selalu membela anak-anaknya. Sistem mendisiplinkan anak yang berbeda jauh antara Harum  dan Hasan.

Masalah terus terulang, Hasan yang tidak bisa tegas mendisiplinkan anak, selalu menjadi pertengkaran diantara mereka. Harum berubah jadi tidak sabar, suka marah-marah, kelembutan dari Harum tidak lagi terlihat. Harum kecewa dengan sikap Hasan yang selalu membela anak-anaknya, padahal hal yang dilakukan anaknya salah.

Harum marah, kecewa merasa tidak dihargai sebagai istri dan Ibu sambung dari anak-anak. Harum merasa ada yang harus diperbaiki dari sikap Caca, namun ketika Harum mengingatkan Caca lebih bertingkah dan Hasan membela sikap yang salah dari Caca.

Kekecewaan Harum, sampai pada klimaks menyesali pernikahan ini, itulah yang ada di batinnya. Kehidupan yang di jalaninya terasa berat setiap harinya. Tapi ini keputusannya, dia tak bisa mengeluh apalagi dengan kedua orang tuanya. Dia tidak mau kedua orang tuanya khawatir akan kehidupan putri semata wayang mereka.

Sikap Hasan yang berubah sedikit kasar, bebicara kadang sampai membentak Harum, sementara Harum yang tidak pernah di bentak sedari kecil hingga saat ini oleh kedua orang tuanya sangat syok menerima perlakuan seperti itu.

Harum hanya bisa bersabar dan menjalani kehidupannya yang sedikit berbeda dengan pasangan pengantin baru lainnya. Seraya berdoa semoga Hasan bisa mengerti maksudnya dengan anak-anak. Dan juga berdoa semoga anak-anak bisa menerimanya dengan baik. Bisa menerima bahwa Harum sekarang Ibu mereka.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *